Menuju dan Menjadi yang Terbaik

November 6, 2009

Makna Menjadi Manusia

Filed under: Manajemen SDM — sabrinafauza @ 6:28 am

Kemampuan manusia untuk menggunakan akal dalam memahami lingkungannya merupakan potensi dasar yang memungkinkan manusia Berfikir, dengan Berfikir manusia menjadi mampu melakukan perubahan dalam dirinya, dan memang sebagian besar perubahan dalam diri manusia merupakan akibat dari aktivitas Berfikir, oleh karena itu sangat wajar apabila Berfikir merupakan konsep kunci dalam setiap diskursus mengenai kedudukan manusia di muka bumi, ini berarti bahwa tanpa Berfikir, kemanusiaan manusia pun tidak punya makna bahkan mungkin tak akan pernah ada.

Berfikir juga memberi kemungkinan manusia untuk memperoleh pengetahuan, dalam tahapan selanjutnya pengetahuan itu dapat menjadi fondasi penting bagi kegiatan berfikir yang lebih mendalam.

Ketika Adam diciptakan dan kemudian ALLAH mengajarkan nama-nama, pada dasarnya mengindikasikan bahwa Adam (Manusia) merupakan Makhluk yang bisa Berfikir dan berpengetahuan, dan dengan pengetahuan itu Adam dapat melanjutkan kehidupannya di Dunia. Dalam konteks yang lebih luas, perintah Iqra (bacalah) yang tertuang dalam Al Qur’an dapat dipahami dalam kaitan dengan dorongan Tuhan pada Manusia untuk berpengetahuan disamping kata Yatafakkarun (berfikirlah/gunakan akal) yang banyak tersebar dalam Al Qur’an. Semua ini dimaksudkan agar manusia dapat berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dengan tahu dia berbuat, dengan berbuat dia beramal bagi kehidupan. semua ini pendasarannya adalah penggunaan akal melalui kegiatan berfikir. Dengan berfikir manusia mampu mengolah pengetahuan, dengan pengolahan tersebut, pemikiran manusia menjadi makin mendalam dan makin bermakna, dengan pengetahuan manusia mengajarkan, dengan berpikir manusia mengembangkan, dan dengan mengamalkan serta mengaplikasikannya manusia mampu melakukan perubahan dan peningkatan ke arah kehidupan yang lebih baik, semua itu telah membawa kemajuan yang besar dalam berbagai bidang kehidupan manusia (sudut pandang positif/normatif).

Dengan demikian kemampuan untuk berubah dan perubahan yang terjadi pada manusia merupakan makna pokok yang terkandung dalam kegiatan Berfikir dan berpengetahuan. Disebabkan kemampuan Berfikirlah, maka manusia dapat berkembang lebih jauh dibanding makhluk lainnya, sehingga dapat terbebas dari kemandegan fungsi kekhalifahan di muka bumi, bahkan dengan Berfikir manusia mampu mengeksplorasi, memilih dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya.

Pernyataan di atas pada dasarnya menggambarkan keagungan manusia berkaitan dengan karakteristik eksistensial manusia sebagai upaya memaknai kehidupannya dan sebagai bagian dari Alam ini.

Dalam konteks perbandingan dengan bagian-bagian alam lainnya, para akhli telah banyak mengkaji perbedaan antara manusia dengan makhluk-makhluk lainnya terutama dengan makhluk yang agak dekat dengan manusia yaitu hewan. Secara umum komparasi manusia dengan hewan dapat dilihat dari sudut pandang Naturalis/biologis dan sudut pandang sosiopsikologis. Secara biologis pada dasarnya manusia tidak banyak berbeda dengan hewan, bahkan Ernst Haeckel (1834 – 1919) mengemukakan bahwa manusia dalam segala hal sungguh-sungguh adalah binatang beruas tulang belakang, yakni binatang menyusui, demimikian juga Lamettrie (1709 – 1751) menyatakan bahwa tidaklah terdapat perbedaan antara binatang dan manusia dan karenanya bahwa manusia itu adalah suatu mesin.

Kalau manusia itu sama dengan hewan, tapi kenapa manusia bisa bermasyarakat dan berperadaban yang tidak bisa dilakukan oleh hewan ?, pertanyaan ini telah melahirkan berbagai pemaknaan tentang manusia, seperti manusia adalah makhluk yang bermasyarakat (Sosiologis), manusia adalah makhluk yang berbudaya (Antropologis), manusia adalah hewan yang ketawa, sadar diri, dan merasa malu (Psikologis), semua itu kalau dicermati tidak lain karena manusia adalah hewan yang berfikir/bernalar (the animal that reason) atau Homo Sapien.

Dengan memahami uraian di atas, nampak bahwa ada sudut pandang yang cenderung merendahkan manusia, dan ada yang mengagungkannya, semua sudut pandang tersebut memang diperlukan untuk menjaga keseimbangan memaknai manusia. Blaise Pascal (1623 – 1662) menyatakan bahwa adalah berbahaya bila kita menunjukan manusia sebagai makhluk yang mempunyai sifat-sifat binatang dengan tidak menunjukan kebesaran manusia sebagai manusia. Sebaliknya adalah bahaya untuk menunjukan manusia sebagai makhluk yang besar dengan tidak menunjukan kerendahan, dan lebih berbahaya lagi bila kita tidak menunjukan sudut kebesaran dan kelemahannya sama sekali (Rasjidi. 1970 : 8). Guna memahami lebih jauh siapa itu manusia, berikut ini akan dikemukakan beberapa definisi yang dikemukakan oleh para akhli :

• Plato (427 – 348). Dalam pandangan Plato manusia dilihat secara dualistik yaitu unsur jasad dan unsur jiwa, jasad akan musnah sedangkan jiwa tidak, jiwa mempunyai tiga fungsi (kekuatan) yaitu logystikon (berfikir/rasional, thymoeides (Keberanian), dan epithymetikon (Keinginan)

• Aristoteles (384 – 322 SM). Manusia itu adalah hewan yang berakal sehat, yang mengeluarkan pendapatnya, yang berbicara berdasarkan akal fikirannya. Manusia itu adalah hewan yang berpolitik (Zoon Politicon/Political Animal), hewan yang membangun masyarakat di atas famili-famili menjadi pengelompokan impersonal dari pada kampung dan negara.

• Ibnu Sina (980 -1037 M). manusia adalah makhluk yang mempunyai kesanggupan : 1) makan, 2) tumbuh, 3) ber-kembang biak, 4) pengamatan hal-hal yang istimewa, 5) pergerakan di bawah kekuasaan, 6) ketahuan (pengetahuan tentang) hal-hal yang umum, dan 7) kehendak bebas. Menurut dia, tumbuhan hanya mempunyai kesanggupan 1, 2, dan 3, serta hewan mempunyai kesanggupan 1, 2, 3, 4, dan 5.

• Ibnu Khaldun (1332 – 1406). Manusia adalah hewan dengan kesanggupan berpikir, kesanggupan ini merupakan sumber dari kesempurnaan dan puncak dari segala kemulyaan dan ketinggian di atas makhluk-makhluk lain.

• Ibnu Miskawaih. Menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang mempunyai kekuatan-kekuatan yaitu : 1) Al Quwwatul Aqliyah (kekuatan berfikir/akal), 2) Al Quwwatul Godhbiyyah (Marah, 3) Al Quwwatu Syahwiyah (sahwat).

• Harold H. Titus menyatakan : Man is an animal organism, it is true but he is able to study himself as organism and to compare and interpret living forms and to inquire about the meaning of human existence. Selanjutnya Dia menyebutkan beberapa faktor yang berkaitan (menjadi karakteristik – pen) dengan manusia sebagai pribadi yaitu :

i. Self conscioueness
ii. Reflective thinking, abstract thought, or the power of generalization
iii. Ethical discrimination and the power of choice
iv. Aesthetic appreciation
v. Worship and faith in a higher power
vi. Creativity of a new order

• William E. Hocking menyatakan : Man can be defined as the animal who thinks in term of totalities.
• C.E.M. Joad. Menyatakan : every thing and every creature in the world except man acts as it must, or act as it pleased, man alone act on occasion as he ought
• R.F. Beerling. Menyatakan bahwa manusia itu tukang bertanya.

Dari uraian dan berbagai definisi tersebut di atas dapatlah ditarik beberapa kesimpulan tentang siapa itu manusia yaitu :
1. Secara fisikal, manusia sejenis hewan juga
2. Manusia punya kemampuan untuk bertanya
3. Manusia punya kemampuan untuk berpengetahuan
4. Manusia punya kemauan bebas
5. Manusia bisa berprilaku sesuai norma (bermoral)
6. Manusia adalah makhluk yang bermasyarakat dan berbudaya
7. Manusia punya kemampuan berfikir reflektif dalam totalitas dengan sadar diri
8. Manusia adalah makhluk yang punya kemampuan untuk percaya pada Tuhan
apabila dibagankan dengan mengacu pada pendapat di atas akan nampak sebagai berikut :

Dengan demikian nampaknya terdapat perbedaan sekaligus persamaan antara manusia dengan makhluk lain khususnya hewan, secara fisikal/biologis perbedaan manusia dengan hewan lebih bersifat gradual dan tidak prinsipil, sedangkan dalam aspek kemampuan berfikir, bermasyarakat dan berbudaya, serta bertuhan perbedaannya sangat asasi/prinsipil, ini berarti jika manusia dalam kehidupannya hanya bekutat dalam urusan-urusan fisik biologis seperti makan, minum, beristirahat, maka kedudukannya tidaklah jauh berbeda dengan hewan, satu-satunya yang bisa mengangkat manusia lebih tinggi adalah penggunaan akal untuk berfikir dan berpengetahuan serta mengaplikasikan pengetahuannya bagi kepentingan kehidupan sehingga berkembanglah masyarakat beradab dan berbudaya, disamping itu kemampuan tersebut telah mendorong manusia untuk berfikir tentang sesuatu yang melebihi pengalamannya seperti keyakinan pada Tuhan yang merupakan inti dari seluruh ajaran Agama. Oleh karena itu carilah ilmu dan berfikirlah terus agar posisi kita sebagai manusia menjadi semakin jauh dari posisi hewan dalam konstelasi kehidupan di alam ini. Meskipun demikian penggambaran di atas harus dipandang sebagai suatu pendekatan saja dalam memberi makna manusia, sebab manusia itu sendiri merupakan makhluk yang sangat multi dimensi, sehingga gambaran yang seutuhnya akan terus menjadi perhatian dan kajian yang menarik, untuk itu tidak berlebihan apabila Louis Leahy berpendapat bahwa manusia itu sebagai makhluk paradoksal dan sebuah misteri, hal ini menunjukan betapa kompleks nya memaknai manusia dengan seluruh dimensinya.

Oktober 21, 2009

Wawasan SDM

Filed under: Manajemen SDM — sabrinafauza @ 2:25 am

Manusia diciptakan Tuhan dengan karakteristik yang kompleks antara satu dengan yang lainnya, karena itu dalam setiap manusia yang terdiri dari fisik dan psikis selalu dalam perkembangannya mengalami berbagai pergulatan dan pertentangan baik dari dirinya sendiri atau dari luar dirinya. Namun pada hakikatnya manuisa dan kemanusiaan memiliki sifat dan ciri hakiki sebagai berikut :

1. Homo Religius
Pandangan yang memberikan pemahaman bahwa hakikat manusia sebagai makhluk yang beragama, makhluk yang dapat berfikir, bertindak dan berusaha, makhluk yang dapat menentukan baik dan buruk, memiliki keterbatasan dan kekurang sebagai makhluk Tuhan.

2. Homo Sapiens
Pandangan yang mengarahkan bahwa manusia sebagai makhluk bijaksana dan dapat berfikir/ animal rasionale, makhluk sempurna yang memiliki akal, fikiran, rasio, daya nalar untuk berbuat dan belajar.

3. Homo Faber
Manusia sebagai makhluk yang memiliki piranti (perangkat) akal dan keterampilan tangannya dapat menghasilkan sesuatu/ produsen atau menggunakan karya orang lain/ konsumen.

4. Homo Homini Socius
Pandangan yang menganggap manusia sebagai makhluk yang berinteraksi dengan lingkunganya atau sebagai kawan sosial dengan manusia lainnya dalam membentuk masyarakat. (ada yang berpendapat bahwa manusia adalah srigala bagi manusia lain/ Homo Homini Lupus)

5. Manusia sebagai makhluk etis dan estetis
Manusia yang memiliki kesadaran susila, mempunyai norma sosial, bakat sesuai dengan norma dan kaidah etika yang diyakini dan memiliki rasa keindahan.

Pendapat lain yang juga diyakini sampai saat ini tentang hakikat manusia seperti : Manusia memiliki Jiwa dan raga yang tidak terpisahkan baik Individu dan sosial (Monodualis), manusia memiilki kompleksitas sistem fisik dan psikis, yang berkesatuan, saling mendukung dan bersinergi (Monopluralis), manusia makhluk yang harus didik, dengan pendidikan diperoleh pengetahuan untuk menata kehidupannya (Animal educandum), manusia dapat dididik (Animal educable), manusia bukan hanya harus dan dapat dididik tetap juga harus dan dapat mendidik dan memberi contoh (Homo educandus), manusia memiliki daya nalar, berfikir dalam bentuk logis, menghubungkan ide-ide secara sadar dan bertujuan tentang apa yang akan dilakukan Animal (Rationale/ hewan yang rationale, makhluk yang meng-gunakan simbol untuk berkomunikasi (Animal symbolicium)

Konsep Sumber Daya Manusia

Manusia kerja dapat dipengaruhi secara ekonomi dan struktur masyarakat secara keseluruhan. Pada mulanya manusia kerja dinyatakan sebagai buruh, pegawai, karyawan dan kemudian berkembang secara konseptual dengan sebutan tenaga kerja. Hal ini tercermin dalam kebijakan negara dengan adanya menteri dan departemen tenaga kerja sebagai pengganti departemen perburuhan.
Belakangan ini para akademisi ataupun para praktisi di Indoneisa lebih sering membicarakan mengenai sumber daya manusia yang lebih bersifat subtansi yang menyentuh hakikat manusia semakin menjadi perhatian khusus adalah dalam pengembangan kualitas manusia secara utuh jasmani dan rohani (manusia paripurna)

1. Tenaga Kerja sebagai Barang Dagangan
Dalam pandangan ini, tenaga keja diperlakukan tidak ubahnya seperti barang dagangan, sebagai salah satu faktor produksi yang diperdagangkan, diperjualbelikan untuk dijadikan alat produksi. Ada juga yang beranggapan bahwa SDM memiliki nilai pasar tersendiri, sebagian para ahli beranggapan yang sama. anggapan ini tidak menjadi pemahaman yang selamanya benar, namun ada pula yang mempunyai anggapan berbeda, yaitu organisasi harus memperlakukan karyawannya sebagi manusia.

2. Tenaga Kerja sebagai Mesin
Dalam perkembangan konsep Scientific Management pada permulaan abad ke 20, ditemukan teknik-teknik manajemen yang mengutamakan produktifitas kerja, sejalan dengan upaya-upaya pengukuran kinerja, kualitas kerja, analisa pekerjaan sampai pada hal-hal yang detail dari pekerjaan agar setiap pengukuran dapat digolongkan menurut standar yang ditetapkan. Situasi ini dianggap mendatangkan petaka karena menempatkan para pekerja sebagai mesin. Para insinyur industri beranggapan bahwa pekerjaan-pekerjaan rutin yang dikerjakan manusia dapat diganti dengan mesin.

3. Tenaga Kerja sebagai Manusia
Pandangan ini mengakui manusia sebagai makhluk yang memiliki kebutuhan, keinginan dan harapan yang dalam pemenuhan-nya dihadapkan pada dorongan dalam diri, dan kadangkala ada dorongan diluar diri manusia. Dari sifat dasar manusia selalu ada maslah terhadap disiplin dan kinerja karena keterbatasannya sebagaimanusia yang kadang turun naik diakibatkan oleh motivasi dalam dirinya. Karena itu peran pengawasan juga dibutuhkan.

4. Tenaga Kerja sebagai Sumber Daya Manusia
Dalam perkembangan selanjutnya dinyatakan bahwa tenaga kerja memiliki kekuatan dalam mengelola organisasi, yang sebagian berpendapat bahwa sumber daya ini sangat memiliki keunikan yang timbul dari akal fikirannya seperti ide, berfikir kreatif, visioner dan kemampuan teknis yang terus berkembang. Sumber daya ini dapat dikatakan intangible, dan sulit untuk diduplikasi oleh seseorang atau organisasi karena keunikannya.

5. Tenaga Kerja sebagai Patner
Setiap perusahaan akan dapat dipastikan sangat memerlukan tenaga kerja atau pengelola dan begitu juga sebaliknya. Kesalingtergantungan ini sebenarnya sudah dapat dikatakan bahwa keduanya merupakan satu tim atau dalam satu wadah yaitu perusahaan atau organisasi. Lebih tepatnya dapat dikatakan sebagai patner kerja yang saling membutuhkan dan saling menguntungkan.

Manajemen Sumber Daya Manusia

Manajemen sumber daya manusia, biasa juga disebut MSDM, adalah suatu ilmu atau cara bagaimana mengatur sumber daya yang dimiliki individu untuk dapat digunakan secara maksimal sehingga tujuan (goal) dapat dicapai. MSDM didasari pada suatu konsep bahwa setiap karyawan adalah manusia, walaupun pada pandangan sebelumnya ada yang menyatakan bahwa tenaga kerja sebagai barang dagangan, sebagai mesin dan semata-mata menjadi sumber daya bisnis.
Dalam perkembangan kajiannya, konsep Manajemen Sumber Daya Manusia berkembang dan didukung oleh beberapa bidang ilmu seperti psikologi, sosiologi, dll.
Manajemen Sumber Daya Manusia sangat penting dalam kaitannya dengan pertumbuhan dan perkembangan perusahaan yang memiliki keunggulan bersaing, setidaknya memiliki tiga alasan:

1. Kemampuan melaksanakan strategi
Anda tentu sering menemukan betapa strategi perusahaan hanya tercetak di laporan-laporan tahunan. Apakah strategi itu dilaksanakan? Banyak yang hanya sekadar gagah-gagahan. Mengapa tidak dilaksanakan? Kuncinya pada manajemen sumber daya manusia yang melaksanakan strategi itu. Tanpa dukungan manajemen sumber daya manusia, maka strategi hanya berupa rangkaian uraian kalimat yang tidak ada dampaknya apa-apa.

2. Kemampuan untuk berubah.
Dalam iklim persaingan yang ketat ditambah dengan perubahan lingkungan strategis yang tidak dapat diprediksi secara pasti, sumber daya manusia yang tangguh sangat sibutuhkan. Manusia-manusia yang mampu tidak saja menyongsong perubahan, namun mereka malah mampu ”menunggang perubahan” sehingga perubahan yang ada malah menguntungkan perusahaan. Ini bisa terjadi jika manajemen sumber daya manusia di organisasi itu dilaksanakan dengan baik.

3. Keserasian strategi.
Sebagai sebuah contoh, pemegang saham sudah mencanangkan bahwa pelayanan pelanggan adalah isu utama yang harus dijalankan oleh perusahaan agar mampu bersaing. Kehendak pemegang saham itu tidak akan banyak artinya jika tidak didukung oleh karyawan. Manajemen sumber daya manusia yang trampil perlu memiliki kemampuan “membaca” keinginan dan harapan pemegang saham, dan karyawan juga harus dapat ‘sehati-sejiwa’ dengan kehendak pemegang saham. Keserasian ini dapat menunjukan bahwa ada persamaan persepsi untuk memajukan perusahaan dan menjaga perusahaan agar tetap survive di lingkunguan bisnisnya. Yakinilah bahwa keserasian keinginan dan harapan antara pemegang saham dan karyawan dapat mengarah pada kesuksesan manajemen perusahaan.

2
Masalah Sumber Daya Manusia

Motivasi Kerja
Kata motivasi (motivation) kata dasarnya adalah motif (motive) yang berarti dorongan, sebab atau alasan seseorang melakukan sesuatu. Motivasi juga dapat diartikan sebagai suatu dorongan yang dapat membuat seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai hasrat/keinginannya. Sumber motivasi dapat berasal dari dalam diri seseorang yang biasa disebut motivasi intrinsik, contoh motivasi ini misalnya seorang karyawan bekerja dengan giat untuk mencapai hasil produksi yang sesuai dengan target dan jika terpenuhi target kerja tersebut maka pekerja akan mendapat bonus yang lebih baik. Selain itu juga motivasi dapat berasal dari luar diri seseorang yang biasa disebut motivasi ekstrinsik. Motivasi ini mengarahkan manusia pada pemenuhan kebutuhan hidupnya sebagai sebuah kekuatan yang sangat besar dalam dirinya. Contoh ; motivasi intrinsik misalnya seorang karyawan bekerja dengan giat agar memiliki kinerja yang lebih baik dari masa yang lalu, seseorang melanjutkan pendidikan agar mendapat pengetahuan kerja yang lebih aktual dan dapat membantu pekerjaannya pada masa yang akan datang.
Para ahli berpendapat, motivasi intrinsik dapat lebih berpengaruh dalam waktu yang cukup lama terhadap pembentukan sikap kerja seseorang.

Eksepektasi (harapan)

Harapan adalah persepsi seseorang tentang perilaku yang tepat bagi peranan atau posisi dirinya sendiri atau persepsi seseorang tentang peranan orang lain di dalam organisasi. Dengan kata lain, harapan orang-orang menentukan hal-hal yang harus mereka lakukan di berbagai keadaan dalam pekerjaan dan bagaimana mereka seharusnya berperilaku sesuai posisi mereka.
Seseorang telah berbagi harapan dengan orang lain berarti bahwa setiap orang yang terlibat secara akurat dan menerima peranan masing-masing dalam organisasi sendiri dan peranan orang lain. Apabila harapan-harapan setiap orang berjalan beriringan, maka tujuan dan sasaran mereka sendiri dapat tercapai dan efektifitas dan efisiensi yang dicanakan organisasi juga dapat tercapai.

Gaya dan Harapan

Setiap manajer dalam suatu organisasi, seperti yang dikemukakan Jacob W. Getzels, berasal dari interaksi antara gaya dan harapan. Peranan pimpinan kebanyakan distruktur oleh harapan. Harapan dan peran seorang kopral berbeda dengan harapan seorang sersan, misalnya. Hanya sedikit perilaku inovatif dari keduanya. Seorang pengawas didasarkan pada asumsi Teori X yang berpandangan bahwa manusia, yang melakukan pekerjaan ada unsur paksaan dengan sturuktur supervisi yang ketat, ”tegas tapi fair”, dan sebagainya.
Seorang pimpinan memiliki harapan formal yang lebih sedikit, yang memungkinkan lebih banyak peluang untuk mengungkapkan gaya kerjanya sendiri. Perilaku manajer penelitian dan pengembangan, misalnya, sebagian besar berasal dari gayanya sendiri, karena adanya dorongan untuk inovatif dan kreatif.

Kepuasan Kerja
Dalam melakukan pekerjaan, individu salalu melibatkan aspek yang ada dalam dirinya, baik fisik maupun non fisik. Hal tersebut juga ternyata berlaku pula pada cara karyawan menanggapi hasil pekerjaan yang dilakukan. Salah tanggapan yang berkaitan dengan pekerjaan ditinjau dari aspek psikis adalah rasa kepuasan atau tidak puas.
Perasaan puas cenderung mendorong seseorang untuk melakukan pekerjaan yang sama, sedangkan yang merasa tidak puas cenderung menghindarinya.
Kepuasan kerja merupakan keadaan emosional yang menyenangkan dan tidak menyenangkan seorang karyawan memandang pekerjaan merreka. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan (T. H. Handoko, 1996). Sejalan dengan itu juga, Keith Davis mengungkapkan “Kepuasan kerja merupakan seperangkat perasaan pegawai tentang menyenangkan atau tidaknya pekerjaan mereka”. Karena itulah dapat dikatakan subyektif.
Ternyata dari pendapat kedua hal tersebut dapat diambil suatu kesimpulan bahwa kepuasan kerja pada prinsipnya bersifat pribadi/individu, dalam arti bahwa setiap orang akan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang ada pada dirinya. Perbedaan ini dittunjukan oleh kebutuhan yang dirasakan dan nilai-nilai yang dianut seseorang dalam kaitannya dengan pengalaman yang diperoleh dalam pekerjaan.
Kepuasan dan ketidakpuasan dapat diartikan pula sebagai suatu keadaan yang bersifat subyektif dan juga merupakan hasil kesimpulan yang didasari pada suatu perbandingan mengenai apa yang secara nyata diterima oleh seseorang dari pekerjaannya dibandingkan dengan apa yang diharapkan, diinginkan dan difikirkan sebagai hal yang pantas atau berhak baginya.
Secara lugas dapat dinyatakan bahwa seseorang melakukan pekerjaan dengan imbalan yang pantas secara materi dapat menimbulkan kepuasan, namun juga sejalan dengan hal tersebut diatas bahwa bukan hanya materi yang menjadi dasar kepuasan tersebut tetapi sisi lain dianggap berperan berdasarkan motivasi individu.

Oktober 20, 2009

Mutasi

Filed under: Manajemen SDM — sabrinafauza @ 6:44 am

MUTASI

Mutasi adalah suatu kegiatan memindahkan karyawan dari unit/bagian yang kelebihan tenaga ke unit/bagian yang kekurangan tenaga atau yang lebih memerlukan.
Mutasi karyawan dapat terjadi karena 2 hal yaitu:
1) Keinginan karyawan sendiri
2) Keinginan perusahaan, atau keinginan atasan

Manfaat Mutasi
1. memenuhi kebutuhan tenaga di bagian yang kekurangan tanpa merekrut dari luar.
2. memenuhi keinginan karyawan sesuai dengan minat dan bidang tugasnya
3. menjamin keyakinan karyawan bahwa tidak akan diberhentikan karena kurang mampu atau kekurang cakapan.
4. sebagai motivasi karyawan
5. mengatasi rasa bosan pada jabatan atau pekerjaan yang sama

Segi negatif anggapan sebagian orang bahwa mutasi merupakan suatu hukuman terutama bagi karyawan yang kurang mampu, kurang cakap, kurang berhasil dan karyawan yang merasa bersalah/melakukan kesalahan. Namun juga ada segi postif dari mutasi diantaranya adalah:
1. usaha menempatkan pegawai pada pekerjaan dan jabatan yang sesuai dengan kecakapan dan kemampuannya.
2. usaha meningkatkan semangat dan gairah kerja.
3. usaha menciptakan persaingan yang sehat diantara pegawai.
Mutasi promosi yaitu mutasi yang diikuti dengan kenaikan jabatan. Tugas dan tanggung jawab seorang pegawai yang mendapat mutasi tersebut bertambah besar. Tujuannya adalah:
a. mengisi suatu formasi jabatan dengan mengambil sumber tenaga dari dalam.
b. membina karier pegawai
c. mengembangkan kemampuan pegawai.

Macam-macam Mutasi

1. Ditinjau dari aktivitas tempat pegawai bekerja:
Mutasi antar urusan, Mutasi antar seksi, mutasi antar bagian, mutasi antar biro, mutasi antar unit
2. Ditinjau dari tujuan dan maksud mutasi ada lima yaitu:
a. Production transfer (mutasi dalam jabatan yang sama karena produksi menurun)
b. Replacemant transfer (mutasi dari jabatan yang sudah lama di pegang ke jabatan yang sama pada unit/bagian lain, untuk menggantikan pegawai baru atau pegawai yang diberhentikan
c. Versatility transfer (mutasi dari jabatan yang satu ke jabatan yang lain untuk menambah pengetahuan pegawai yang bersangkutan
d. Shife transfer (mutasi dalam jabatan yang sama, tetapi berbeda shife, misalnya dari shife A (malam) ke shife B (siang)
e. Remedial transfer (mutasi pegawai ke bagian mana saja dengan tujuan untuk memupuk atau memperbaiki kerjasama antar pegawai.

3. Ditinjau dari masa kerja pegawai
a. Temporary transfer (mutasi yang bersifat sementara, untuk menggantikan yang berhalangan ).
b. Permanent transfer (mutasi yang bersifat tetap)

PROMOSI

1. Arti dan manfaat Promosi
Istilah promosi (promotion) berati kemajuan, maju ke depan, pembinaan status dan penghargaan yang lebih tinggi. Pengertian promosi dapat juga dikatakan sebagai berikut:
1) Promosi : kemajuan seorang pegawai dalam mengerjakan suatu tugas sehingga ia diberi tugas yang lebih besar tanggungjawabnya.
2) Promosi : perubahan jabatan dari jabatan semula ke jabatan baru yang lebih tinggi yang mengandung tanggungjawab dan kekuasaan yang lebih besar. (kadang-kadang diikuti dengan kenaikan pangkat)
3) Promosi : suatu perubahan dalam tanggungjawab kekuasaan, tingkat, derajat dan pangkat.
4) Promosi : kenaikan jataban, disertai dengan kekuasaan dan tanggungjawab yang lebih besar pada kekuasaan dan tanggungjawab sebelumnya.
Kesimpulan
Promosi adalah suatu kenaikan jabatan yang dialami oleh seorang pegawai disertai dengan kekuasaan yang lebih tinggi dan tanggungjawab yang lebih luas pula.

1. Promosi sangat penting dalam rangka pembinaan dan pengembangan pegawai seperti berikut:
a) Promosi merupakan motivasi bagi pegawai untuk lebih maju dan lebih mengembangkan bakat dan kariernya
b) Promosi merupakan usaha meningkatkan semangat dan gairah kerja pegawai
c) Promosi merupakan usaha mengisi formasi jabatan dalam mempergunakan sumber tenaga kerja dari dalam
d) Bagi pegawai promosi lebih penting dari pada kenaikan gaji
e) Promosi dapat menjamin keyakinan para pegawai, bahwa setiap pegawai selalu diberi kesempatan untuk maju dan mengembangkan karier.
f) Promosi merupakan salah satu usaha menciptakan persaingan yang sehat diantara pegawai.

2. Syarat-syarat Promosi
Seorang pegawai dapat dipromosikan untuk menduduki jabatan baru yang lebih tinggi, apabila:
a) ada formasi/lowongan jabatan. Lowongan jabatan dapat terjadi karena ada pegawai yang mengundurkan diri, pindah tugas, pensiun, atau meninggal dunia.
b) Pegawai yang besangkutan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan dalan analisis jabatan.
c) Pegawai yang besangkutan lulus dari seleksi (ujian dinas)
Program Promosi
1. Promosi hendaknya diberikan atas dasar kecakapan kepada pegawai yang paling cakap diantara pegawai.
2. Promosi hendaknya diselenggarakan menurut program yang telah dibuat/ditentukan dengan peraturan kepegawaian
3. Promosi hendaknya dilakukan atas dasar alasan-alasan yang tepat.
4. Promosi hendaknya dilakukan atas dasar metode-metode, penilaian secara obyektif.
5. Semua informasi tentang promosi hendaknya di informasikan kepada para pegawai, sehingga mereka mengetahui kebijaksanaan pimpinan dalam melaksanakan program promosi.

3. Evaluasi Terhadap Promosi
Agar promosi mencapai sasaran, perlu diadakan evaluasi terhadap pelaksanaan promosi. Salah satu diantaranya adlah dengan menjawan pertanyaan sebabai berikut:
1) Apakah promosi akan diikuti dengan kenaikan pangkat dari dalam?
2) Bidang apakah yang menjadi lapangan persaingan
3) Apakah promosi terbatas pda kesatuan organisasi dimana ada formasi/lowongan jabatan saja?
4) Apakah promosi diperuntukkan bagi pegawai yang sudah lama dalam organisasi
5) Apakah pegawai-pegawai di luar instansi juga diperkenankan untuk ikut bersaing dalam rangka pelaksanaan promosi?
6) Apakah lapangan persaingan dibatasi?
7) bagaimana kecakapan pegawai dinilai, dan bagaimana menentukan pegawai yang berhak untuk mendapat promosi?
Pertanyaan agar dijawab secara obyektif dan dengan sungguh-sungguh.

4. Senioritas dalam Promosi
Promosi atau kenikan jabatan dapat dilakukan berdasarkan masa kerja pegawai – Sistem senioritas (Seniority) yang artinya dalam program promosi, masa kerja pegawai tersebut lebih diutamakan/sebagai bahan pertimbangan. Dengan sistim ini pegawai yang mempunyai masa kerja paling lama akan mendapat prioritas untuk memperoleh prioritas.
Tujuan : Membantu pegawai agar tetap tinggal dalam suatu dinas
Kelemahan: kurang mendapatkan faktor kecakapan dan kemampuan pegawai. Untuk menentukan promosi yang lebih baik adalah gabungan sistem kareir dan sistem senioritas.
Dalam sistem gabungan: sistem kedua faktor yaitu faktor masa kerja dan kecakapan pegawai mendapat perhatian. Dalam pelaksanaan promosi, faktor ambisu perlu pula mendapat perhatian. Orang yang terlalu ambisi untuk mendapatkan formasi bisanya menghalalkan segala cara untuk meraih formasi tersebut. Hal ini tidak dapat dibenarkan, karena akan berakibat persaingan yang tidak sehat di kalangan pegawai.

5. Mempersiapkan calon yang akan dipromosikan
Yang dimaksud dengan mempersiapkan pegawai yang dipromosikan adalah pembentukan kader yang akan menggantikan atau mengisi jabatan-jabatan dalam suatu orgasisasi. Tujuan dari pembentukan kader adalah untuk:
1) Pegawai yang bersangkutan dapat mempersiapkan diri baik kecakapannya, kemampuannya maupun mental.
2) Mempersiapkan watak dan sikap sebelum menempati jabatan yang baru
3) Menciptakan semangat kerja, disiplin, loyalitas yang tinggi pada para pegawai yang dipromosikan
4) Dengan persiapan diusahakan keberhasilan pegawai dalam melaksanakan tugas setelah memperoleh promosi.

6. Pemanfaatan Masa Cuti sebagai percobaan Promosi
Cuti diberikan kepada pegawai yang dipromosikan/akan menempati tugas baru dengan maksud:
1) Memberi kesempatan kepada pegawai yang bersangkutan untuk menenangkan pikiran sebelum melaksanakan tugas baru.
2) Agar pegawai yang bersangkutan dapat mempersiapkan sebaga sesuatu yang berhubungan dengan promosi, terutama kesiapan mental
3) Memberi kesempatan kepada pegawai yang bersangkutan untuk mengadakan pendektan dan konsultasi dengan sesama prilaku yang brhubungan dengan promosi dn tugas yang baru.

7. Persaingan Sehat dalam Promosi
Persaingan yang sehat adalah persaingan antar pegawai dalam melaksanakan tugas sesuai dengan norma-norma yang berlaku, yang dilakukan dengan jujur dan sportif, tidak saling menjatuhkan pihak lain. Persaingan yang sehati yang dimaksud berarti bahwa hanya pegawai yang memenuhi persyaratan maksimal yang memperoleh promosi.

8. Pengaruh Sampingan dalam Pelaksanaan Promosi
Pelaksanaan program promosi mempunyai pengaruh positif dan negatif.
Pengaruh positif: Apabila promosi dilaksanakan secara obyektif atas dasar persaingan yang sehar, sehingga pegawai termotivasi untuk maju, mengembangkan bakat, kemampuan dan kariernya sesuai dengan aturan yang berlaku.
1) Apabila dilakukan tidak secara obyektif akan timbul: a) pertentangan antar pegawai, b) pertentangan antar atasan dan bawahan, c) suasana kerja tidak harmonis, d) sikap saling curigai, e) semangat kerja disiplin dan loyalitas yang tinggi
2) Ada pegawai yang terlalu ambisi untuk memperoleh promosi sehingga ia dapat merugikan orang lain.
Atau promosi akan berpengaruh negarif: apabila promosi dilakukan atas dasar persaingan yang tidak sehat.

Tema: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.